SIAPA
Silvester Tursiloadi, yang saya panggil Pak Adi ini, adalah peneliti senior di LIPI sektor kimia yang sudah bekerja di sana sejak tahun 1987 sampai sekarang. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Gajah Mada jurusan Kimia, Pak Adi sempat bekerja selama kurang lebih setahun di sebuah perusahaan farmasi sebagai Quality Control Officer. Namun, karena merasa terdorong untuk lebih mengembangkan sayapnya sebagai seorang ilmuwan, ia memilih untuk pindah ke LIPI dan sampai sekarang ia mencari nafkah dengan berkutat di laboratorium menguji ide-idenya, yang sering ia dapat justru pada saat off-duty, seperti pada saat sebelum tidur.
Pada tahun 2001 ia mendapat beasiswa untuk membuat disertasi untuk memperoleh program Doktor yang ia laksanakan di Keio University, Jepang dan LIPI secara bergantian sampai tahun 2005 nanti.
“Ini program S3-sandwich.” begitu candanya ketika saya menemuinya sebelum ia pulang ke Indonesia lagi. Program beasiswa ini mengharuskannya bolak-balik Jakarta-Tokyo karena proyek penelitiannya ini adalah proyek bersama LIPI dan Keio University. Tapi Pak Adi mengaku bahwa walaupun repot, sistem ini ada baiknya juga karena bahan-bahan kimia yang sulit ia peroleh di Indonesia, dapat ia peroleh dengan mudah di Jepang, dan dapat ia bawa pulang. Menurut Pak Adi, ada bahan-bahan tertentu yang kalau dipesan di Indonesia butuh waktu 6 bulan sebelum sampai ke tangannya. Sementara di Jepang, cuma perlu menunggu beberapa hari. Ini jelas sangat membantunya dalam mempercepat keluarnya hasil penelitian, walaupun belakangan pemeriksaan barang bawaan di bandara semakin ketat. Dan bukan tidak mungkin Pak Adi disangka teroris dengan bawaannya yang berupa bahan-bahan kimia dasar dalam botol-botol berlabel gambar api atau tengkorak.
APA
Sekarang Pak Adi sedang sibuk meneliti porous material berstruktur nano, untuk diaplikasikan sebagai katalis dan electroceramic. Ia memang telah lama bergelut di bidang katalis karena baginya katalis dapat membuka jalan penelitian ke mana pun. Daya tarik katalis lainnya ialah karena Indonesia adalah negara kaya sumber alam yang bisa menyediakan bahan dasar pembuatan katalis seberapa pun yang kita butuhkan. Misalnya, bentonite alam yang terkandung dalam tanah liat dapat digunakan dalam pembuatan katalis. “Bayangkan, murah sekali `kan?! Bahan dasarnya, cuma dari tanah!” Begitu kata Pak Adi dengan antusiasnya.
Impiannya adalah, kelak, LIPI dapat membuat pusat katalis di Indonesia karena selama ini ia melihat Indonesia masih terlalu banyak mengimpor teknologi dari luar, akibat belum adanya fasilitas yang cukup. Padahal kalau pusat katalis ini dapat terbentuk, PERTAMINA, pengguna katalis terbesar di Indonesia tidak perlu membuang-buang uang negara untuk menggunakan teknologi negara lain.
“Indonesia itu sayang lho sebenarnya, punya bahan tapi nggak cukup teknologi. Coba lihat, crude palm oil (CPO), kita itu penghasil nomor dua di dunia, tapi CPO ini kita ekspor ke luar negeri untuk diproses, kemudian kita impor lagi sebagai produk jadi. Waduh…” Pak Adi pun geleng-geleng kepala.
BAGAIMANA
“Pak, jadi peneliti di Indonesia itu sejahtera nggak sih sebenarnya??” Akhirnya sampai juga saya pada pertanyaan utama wawancara ini.
“Sejahtera sih..tapi tergantung orangnya juga.” Pak Adi mengaku bisa bolak-balik ke luar negeri untuk keperluan penelitiannya atau menghadiri simposium internasional. Suatu hal yang tidak mungkin didapatkannya kalau ia hanyalah pegawai swasta biasa. Menurut beliau, tawaran-tawaran beasiswa dan proyek penelitian ke luar negeri selalu ada, yang berarti pemasukan lain selain gaji pokoknya sebagai pegawai negeri. Belum lagi kalau ada proyek dari perusahaan-perusahaan yang datang ke LIPI untuk minta bantuan. Setiap ilmuwan yang terlibat, berhak dapat komisi proyek. “Makanya pegawai negeri lain suka bingung, kok orang LIPI kelihatannya sejahtera? Sama-sama pegawai negeri, tapi bisa bermobil?” demikian ujarnya sambil senyum-senyum.
Tapi tentu saja, tidak semua orang bisa memperoleh ini semua, karena pemasukan seorang peneliti bergantung murni dari prestasinya. Tidak sedikit dari teman-teman kerja Pak Adi yang mandeg karena kekurangan ambisi dan inspirasi, bahkan banyak pula yang keluar karena tidak tahan dengan rutinitas laboratorium yang menuntut kesabaran dan keuletan yang tinggi.
PROSPEK
Pak Adi juga mengutarakan kalau LIPI peduli akan tenaga kerja muda Indonesia. Diperkirakan ada 2000 lulusan per tahun dari jurusan kimia di Indonesia. LIPI sempat punya visi untuk membangun 3 industri per tahun namun tidak terlaksana karena berbagai macam dan banyaknya kendala. Pak Adi juga sempat mengutarakan kekecewaannya akan sebuah proyeknya yang gagal karena investor dari Korea yang sudah siap membuat pabrik bersama LIPI, tiba-tiba mundur karena takut melihat kondisi politik dan keamanan di Indonesia yang kurang stabil.
Bukan dalam hal pekerjaan saja, dalam bidang akademis pun LIPI merangkul para mahasiswa yang butuh bimbingan membuat skripsi. Ia tahu betul betapa tidak memadainya fasilitas penelitian di universitas-universitas di Indonesia, sementara mesin-mesin analisa LIPI tidak kalah canggih dengan luar negeri. Para mahasiswa yang dianggap layak, hanya perlu membayar biaya administrasi sebesar 200 ribu rupiah untuk diikutsertakan dalam proyek-proyek penelitian yang ada, sehingga si mahasiswa punya bahan tulisan, dan pimpinan proyek seperti Pak Adi ini punya tenaga bantu ekstra.
Bagi yang ingin tahu lebih lanjut tentang LIPI silakan kunjungi situs resmi LIPI, http://www.lipi.go.id