Teori Konspirasi Sir Hudson Lowe dan Charles de Motholon
Tatkala diumumkan kandungan racun arsenik dalam sampel rambut Napoleon, berbagai pihak mulai menduga-duga pembunuh Napoleon. Gubernur Santa Helena, Sir Hudson Lowe dan Charles de Montholon, anggota kerajaan Perancis diduga sebagai tersangka utama pembunuh Napoleon. Mereka dituduh berkonspirasi meracuni Napoleon. Mereka sengaja meracuni Napoleon karena tidak menginginkan Napoleon kembali ke Perancis. Selama 30 tahun masyarakat mempercayai teori ini. Namun, teori konspirasi ini mulai diragukan kebenarannya sejak awal tahun 1990-an.
Napoleon meninggal karena keracunan arsenik, bukan diracun
Dr. David Jones, ahli kimia dari University of Newcastle, adalah orang yang pertama kali meragukan kematian Napoleon akibat diracun. Selain ahli kimia, David Jones juga membuat program acara di radio BBC. David Jones menduga ada hubungan antara warna kertas dinding (wallpaper) di tembok kamar Napoleon dengan penyebab kematian Napoleon. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti warna kertas dinding kamar Napoleon di Santa Helena. Jika kertas dinding mengandung arsenik, pasti kertas dinding itu berwarna hijau. Saat itu telah diketahui bahwa zat warna hijau merupakan campuran antara tembaga sulfat dengan natrium arsenat yang menghasilkan senyawa tembaga arsenat.
Akhirnya David Jones menanyakan hal tersebut kepada para pendengarnya saat siaran radio BBC. Beberapa hari setelah pertanyaannya diumumkan, David Jones menerima surat dari Shirley Bradley, salah seorang pendengar siaran radionya. Dalam suratnya, Shirley Bradley tidak secara langsung menginformasikan warna kertas dinding kamar Napoleon. Shirley Bradley menceritakan bahwa ia memiliki buku kliping hadiah dari seseorang. Buku kliping tersebut berisi beberapa catatan dan puisi lengkap dengan data hari dan tanggalnya. Salah satu halamannya berisi catatan mengenai St Helena. Pemilik buku tersebut ternyata pernah mengunjungi St Helena pada tahun 1823. Di buku tersebut ditempelkan guntingan kertas dinding di tembok kamar Napoleon di Santa Helena.

Sebagian dari guntingan kertas dinding tersebut diuji David Jones di laboratorium kimia. Hasilnya menunjukkan bahwa zat warna hijau dalam kertas dinding itu adalah senyawa tembaga arsenat. Napoleon menggunakan zat warna hijau untuk melukis. Iklim di Santa Helena yang lembap diyakini meningkatkan jumlah jamur di dinding. Jamur tersebut mengubah tembaga arsenat menjadi trimetil arsin, suatu senyawa yang mudah menguap dan beracun, sehingga Napoleon diperkirakan sedikit demi sedikit teracuni zat ini . David Jones sangat terkesan dengan hasil pengujiannya, “It was a crazy, wonderful moment”. Kandungan arsenik dalam kertas dinding cukup untuk meracuni Napoleon hingga akhirnya meninggal. Jadi, menurut David Jones, Napoleon memang meninggal karena racun arsenik. Akan tetapi, kematiannya bukan karena diracun oleh persekongkolan antara Sir Hudson Lowe dan de Motholon. Napoleon meninggal karena racun arsenik yang berasal dari kertas dinding di tembok kamarnya.
Dokternya tidak sengaja membunuh Napoleon
Steven Karch, dari San Francisco Medical Examiner’s Department menduga bahwa Napoleon dibunuh oleh dokternya secara tidak sengaja. Merujuk pada catatan harian dokter Antommarchi, dokter yang merawat Napoleon, pada tanggal 22 Maret 1821, ia memberikan Napoleon minuman lemon yang mengandung antimon kalium tartarat. Senyawa yang beracun ini diberikan sebagai obat untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Napoleon. Saat itu senyawa antimon kalium tartarat belum diketahui bersifat racun. Hampir setiap hari Napoleon “diobati” oleh antimon kalium tartarat. Akibatnya sungguh fatal, Napoleon mengalami over dosis. Denyut jantung Napoleon meningkat drastis sehingga mengganggu aliran darah ke otak. Antimon kalium tartarat juga yang mengakibatkan kanker lambung. Itulah yang mengakibatkan Napoleon meninggal dunia.
Sejak tahun 1960 hingga sekarang, penyebab kematian terus diperdebatkan dan menjadi kontroversi. Kita mungkin tidak pernah tahu penyebab kematian Napoleon. Baik diracun ataupun tidak, Napoleon tetaplah orang besar. Buku-buku yang menceritakan Napoleon telah banyak diterbitkan. Menurut catatan The Encyclopedia Britannica, ada sekitar dua ratus ribu judul buku yang menuliskan hal tersebut. Lain lagi dengan versi Lembaga Sejarah Perancis, buku yang menulis tentang Napoleon lebih dari empat ratus ribu. Wow, suatu angka yang menakjubkan, bukan?