Daftar Lupa kata kunci?
Wednesday, July 30, 2014 0:53

Beri Rating:

Sebarkan:

  • Lintas Berita Digg Facebook Lintas Berita

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks

Ditulis oleh Ikhsan Firdaus pada 07-03-2009

Pengetahuan tentang nilai-nilai tetapan kestabilan mempunyai arti yang sangat penting dalam ilmu kimia analisis, karena ini dapat memberi informasi tentang konsentrasi dari berbagai kompleks yang terbentuk oleh suatu logam dalam campuran kesetimbangan tertentu; ini tak ternilai dalam pengkajian kompleksometri, dan tentang berbagai prosedur pemisahan analisis seperti ekstrasi pelarut, pertukaran ion, dan kromatografi.

Adapaun faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks. Kestabilan suatu kompleks akan berhubungan dengan :

1. Kemampuan mengkompleks logam-logam.

Kemampuan mengkompleks relatif (dari) logam-logam digambarkan denganb baik menurut klarifikasi Schwarzenbach, yang dalam garis besarnya didasarkan atas pembagian logam menjadi asam Lewis (penerima pasangan elektron) kelas A dan kelas B. Logam kelas A dicurikan oleh larutran afinitas (dalam larutan air) terhadap halogen F- >Cl- > Br- > I-, dan membentuk kompleks terstabilnya dengan anggota pertama (dari) grup Tabel Berkala (dari) atom penyumbang (yakni, nitrogen, oksigen dan fluor). Logam kelas B jauh lebih mudah berkoordinasi dengan I- daripada dengan F- dalam larutan air, dan membentuk kompleks terstabilnya dengan atom penyumbang kedua (atau yang lebih berat) dari masing-masing grup itu (yakni P, S, Cl). Klasifikasi Scwarzenbach, mendefinisikan ketiga kategori ion logam penerima (pasanag elektron).

a.             Kation dengan konfigurasi gas mulia. Logam-logam alkali, alkali tanah, dan alumunium termasuk dalam grup ini, yang memperlihatkan sifat-sifat penerima kelas A. Gaya elektrostatik dominan dalam pembentukan kompleks itu, sehingga interaksi antara ion-ion kecil yang bermuatan tinggi, istimewa kuatnya, dan menimbulkan kompleks-kompleks yang stabil. Kompleks-kompleks fluoro istimewa stabil, air diikat lebih kuat daripada amonia yang mempunyai momen dipol kecil dan ion sianida hanya memiliki kecenderungan kecil untuk membentuk kompleks karena mereka hanya berada dalam larutan basa,dimana mereka tak dapat bersaing denganb ion-ion hidroksil.

b.            Kation dengan sub-kulit d yang terisi lengkap. Yang khas dari grup ini adalah tembaga(I), perak(I), dan emas(I) yang memperlihatkan sifat-sifat penerima kelas B. Ion-ion ini mempunyai daya polarisasi  yang tinggi, dan ikatan-ikatan yang terbentuk dalam kompleks-kompleks merah memiliki watak kovalen yang cukup berarti.

c.             Ion-ion logam transisi dengan sub-kulit dyang tak lengkap. Dalam grup ini baik kecenderungan kelas A maupun kelas B dapat dikenali. Unsur dengan cirri-ciri kelas B membentuk suatu kelompok yang kira-kira berbentuk segitiga dalam Tabel Berkala, dengan puncaknya pada tembaga dan alasnya memebentang dari renium sampai bismut. Disebelah kiri kelompok ini, unsure-unsur dalam keadaan oksidasi yang tinggi, cenderung memeprlihatkan sifat-sifat kelas A, sementara di sebelah kanan kelompok ini, keadaan oksidasi yang lebih tinggi (dari) suatu unsure lebih memiliki watak kelas B.

2. Ciri-ciri khas ligan.

Di antara cirri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan kompleks dalam mana ligan itu terlibat, adalah :

a.  kekuatan basa dari ligan itu,

b.  sifat-sifat penyepitan (jika ada), dan

c.  efek-efek sterik (ruang).

Dari sudut pandangan aplikasi kompleks secara analisis, efek penyepitan mempunyai arti yang teramat penting, maka hendaklah diperhatikan secara khusus.

Istilah ‘efek sepit’ mengacu pada fakta bahwa suatu kompleks bersepit, yaitu kompleks yang dibentuk oleh suatu ligan bedentat atua multidentat, adalah lebiih stabil disbanding kompleks padanannya denga ligan-ligan monodentat: semakin banyak titik lekat ligan itu kepada ion logam,semakin besar kestabilan kompleks. Efek sepit ini sering dapat disebabkan oleh kenaikan entropi yang menyertai penyempitan; dalam hubungan ini, penggantian molekul-molekul air dari ion terhidrasi haruslah diingat-ingat.

Efek sterik yang paling umum adalah efek yang menghambat pembentukan kompleks yang disebabkan oleh adanya suatu gugusan besar yang melekat pada atau berada berdekatan dengan atom penyumbang.

Suatu faktor lanjut yang juga harus dipertimbngkan dari sudut pandangan aplikasi secara analitis dari kompleks-kompleks dan reaksi-reaksi pembentukkan kompleks adalah laju reaksi: agar berguna secara analitis, biasanya reaksi diperlukan cepat.

Keinertan atau kelabilan kinetik dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi pengamatan umum berikut ini merupakan pedoman yang baik akan perilaku kompleks-kompleks dari berbagai unsur.

a.    Unsur grup utama, biasanya membentuk kompleks-kompleks labil.

b.  Dengan kekecualian Cr(III) dan Co(III), kebanyakan unsur transisi baris-pertama, membentuk kompleks-kompleks labil.

c. Unsur transisi baris kedua dan baris ketiga, cenderung membentuk kompleks-kompleks inert.

Kata Pencarian Artikel ini:

kestabilan senyawa kompleks, kestabilan kompleks, faktor yang mempengaruhi stabilitas obat, laporan konstanta stabilitas senyawa kompleks, faktor yang mempengaruhi kompleksasi, faktor yang mempengaruhi pembentukan kompleks, Pengertian Efek sterik, kestabilan senyawa kompleks dan manfaatnya, manfaat mempelajari kestabilan senyawa kompleks, Bagaimana kestabilan senyawa kompleks
Artikel ini termasuk kategori: Kompleksometri dan memiliki 1 Komentar sejauh ini .
Resep Makanan

Anda dapat mengirimkan komentar , atau taut balik dari situs pribadi .

1 Komentar untuk “Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks”

Beri Komentar

Anda Member Chem-is-try.org? Silahkan login disini
Belum menjadi member? Beri komentar disini:

(wajib)

(wajib) (tidak dipublikasi)





Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>