Daftar Lupa kata kunci?
Saturday, April 19, 2014 21:34

Beri Rating:

Sebarkan:

  • Lintas Berita Digg Facebook Lintas Berita

Dilema antara Solusi Krisis Energi Nasional atau Menambah Pemanasan Global

Ditulis oleh Teguh Priyambodo pada 02-12-2007

Dalam selang waktu dua tahun ini Perusahan Listrik Negara(PLN) melalui iklan layanan masyrakatnya gencar mensosialisasikan mengenai penghematan listrik dari pukul 17.00-22.00. Sebagai negara berkembang Indonesia tentunya memerlukan banyak energi listrik terutama untuk memenuhi kebutuhan industri, pelayanan masyarakat, maupun pembangunan infrastruktur lainnya. Jeratan krisis listrik nasional dalam kurun waktu tahun 2000 sampai posisi saat ini membuat pemerintah dalam hal ini PLN bertindak cepat. Konsumsi akan energi listrik nasional yang terus meningkat membuat pemerintah berencana membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara. Dua program total 20.000 MW dirancang berjalan bersamaan, yaitu 10.000 MW dibangun hingga tahun 2009 oleh pemerintah melalui PT. PLN dan 10.000 MW oleh pembangkit listrik swasta. Khusus program percepatan pembangunan PLTU batubara 10.000 MW oleh PLN mulai menggeliat.

Tidak bisa di pungkiri batubara merupakan salah satu solusi penanganan krisis energi nasional untuk mengurangi pemakaian BBM. Akan tetapi setiap bahan bakar memiliki keunggulan dan kelemahan. Berdasarkan data dari PT. Tambang Batubara Bukit Asam, hingga tahun 1991 jumlah batubara yang ditambang baru sebesar 14.478 ribu ton, dari total cadangan yang diperkirakan sebesar 34 milyar ton. Selain itu harga bahan baku batubara lebih murah dibandingkan minyak bumi. Namun solusi mengenai ketenagalistrikan berbahan bakar batubara ini tentu akan menimbulkan dampak lingkungan yang buruk apabila tidak ditanggulangi dengan baik, yaitu sumber gas rumah kaca. Gas rumah kaca merupakan gas-gas yang dapat menutupi atmosfer bumi sehingga radiasi panas dari sinar matahari yang telah dipantulkan oleh permukaan bumi tidak dapat keluar dari atmosfer bumi (terperangkap). Pada konsentrasi yang normal gas rumah kaca berfungsi sebagai selimut bumi, sehingga suhu bumi sesuai sebagai mestinya. Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (gas rumah kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses itulah yang disebut efek rumah kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari Efek Rumah Kaca.

Efek Rumah Kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Tanpa adanya Gas Rumah Kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin.

Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara):

  • 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
  • 27% dari sektor transportasi
  • 21% dari sektor industri
  • 15% dari sektor rumah tangga & jasa
  • 1% dari sektor lain -lain.

Data-data diatas belum termasuk hasil dari pembalakan hutan liar. Terkait dengan pembangunan PLTU, sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global, yaitu pembangkit listrik bertenaga batubara. Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun. Bila semua hal ini tidak diperhatikan maka akan terjadi perubahan iklim (climate change).

Dampak-dampak lainnya:

  • Musnahnya berbagai jenis keanekragaman hayati
  • Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir
  • Mencairnya es dan glasier di kutub
  • Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan
  • Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 – 95 cm.
  • Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
  • Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
  • Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah -daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)
  • Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus pengungsian.

Hal yang menarik tentang semua ini mungkin akan disinggung dalam Convention on Climate Change di Nusa Dua, Bali, 3-14 Desember 2007. Konferensi yang tujuan utamanya adalah untuk membahas keberlanjutan dari Protokol Kyoto yang akan usang ini dihadiri oleh multi-negara. Salah satu agenda yang akan diusung oleh pemerintah. Indonesia sebagai tuan rumah menurut Rachmat Witoelar (Menneg Lingkungan Hidup) adalah agar dunia menyadari bahwa kalau kita memelihara hutan, kita lestarikan, akan mempunyai dampak yang sangat positif untuk iklim dunia. Negara-negara maju dan tidak memiliki hutan harus iuran untuk menegakkan kelestarian itu.

Padahal seperti kita ketahui juga bahwa daerah penambangan batubara terbesar adalah Kalimantan yang saat ini kondisi kelestarian flora dan fauna terancam. Namun tidak sepenuhnya kesalahan pihak penambang, karena kontrol pemerintah maupun kerjasama oknum aparat yang membuat hutan Kalimantan semakin gundul akibat penambangan maupun HPH.

Penutup

Setidaknya apabila Indonesia mendapatkan dana bantuan untuk reforestasi hutan Indonesia dari konferensi tersebut bisa menjadi investasi paru-paru dunia. Ataupun setelah konfrensi tersebut justru Indonesia menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca akibat proyek pembangkit energi listrik. Solusi selain pelaksanaan peraturan maupun pengawasan mengenai lingkungan oleh aparat pemerintah pusat dan daerah, LSM lingkungan adalah peran aktif masyarakat yang tinggal di daerah sekitar pembangkit merupakan hal yang patut dilaksanakan. Akhir kata yang ingin saya tekankan mengenai climate change ini adalah faktor manusia meruapakan kunci untuk pencegahan maupun semakin parahnya climate change ini. Namun khusus untuk sumber batubara kita, perlu kita ingat bahwa selama ini batubara kita lebih banyak di ekspor, jika sekarang PLN akan lebih menggunakan batubara ini jangan disikapi miring, karena sementara ini adalah solusi sementara yang cepat untuk keluar jeratan kekurangan pasokan energi listrik nasional.

Kata Pencarian Artikel ini:

Solusi musnahnya berbagai spesies, krisis energi
Artikel ini termasuk kategori: Kimia Lingkungan dan memiliki 0 Komentar sejauh ini .
Resep Makanan

Anda dapat mengirimkan komentar , atau taut balik dari situs pribadi .

Beri Komentar

Anda Member Chem-is-try.org? Silahkan login disini
Belum menjadi member? Beri komentar disini:

(wajib)

(wajib) (tidak dipublikasi)





Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>