Adanya gangguan terhadap ekosistem alami dapat menyebabkan peningkatan variabilitas keseimbangan karbon secara global. Sebuah penelitian terbaru yang berbahasa Swedia melaporkan bahwa badai dapat mengurangi kadar karbon yang diserap oleh hutan dalam jumlah besar. Adaptasi terhadap perubahan iklim dan kelonggaran merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh program perubahan iklim Eropa (EEPC) pada tahap kedua. Dalam merancang kebijakan terhadap perubahan iklim ini, penting sekali untuk memahami proses penambahan karbon ke dalam atmosfer serta bagaimana menghilangkannya. Penghilangan karbon dari atmosfer ini yang kemudian disebut sebagai carbon sinks atau buangan karbon.
Demikian besarnya peran hutan, sangat terasa fungsinya sebagai penampung buangan karbon, yang tentunya dalam jumlah besar. Jika terjadi gangguan baik yang disebabkan oleh alam maupun lainnya, maka akan terganggu pula fungsinya sebagai penampung/penyerap buangan karbon. Gangguan terhadap hutan tersebut dapat dikatakan sebagai akibat penebangan liar, kerusakan akibat serangga, kebakaran hutan, adanya angin kencang (wind throws) sehingga pohon tercabut/tumbang, terutama sekali kerusakan akibat badai.
Sebuah kajian telah dilakukan untuk mengukur secara langsung bagaimana wind throws mempengaruhi perubahan yang berlangsung secara kontinyu ini. Kajian tersebut dilakukan terhadap badai Gundrun, yaitu badai yang terjadi di bagian selatan Swedia pada bulan Januari 2005. Tujuan kajian tersebut adalah melihat pengaruh badai Gundrun terhadap carbon sink di Swedia.
Akibat adanya badai ini, pertukaran karbon antara hutan dengan atmosfir menjadi berkurang, hal tersebut disebabkan menurunnya kapasitas hutan untuk menyerap sejumlah besar CO2 dari lingkungannya karena tumbangnya pohon sebagai agen carbon sink. Tumbangnya pohon tersebut tentunya akan mengakibatkan proses penguraian dan pembusukan, dimana proses tersebut akan menghasilkan CO2 juga. Kedua faktor tersebut dapat menyebabkan penurunan apa yang dikenal sebagai produktifitas bersih ekosistem atau net ecosystem productivity (NEP).
Kajian tersebut dilengkapi dengan pengukuran NEP pada lokasi yag dipengaruhi oleh badai, yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap aliran CO2 antara area wind throw dan atmosfer. Selain itu, data dilengkapi dengan contoh (sample) pepohonan dan data cuaca. Kemudian data di olah dan dibuat model fluktuasi karbon pada area yang terkena badai.
Penelitian tersebut melaporkan, bahwa telah terjadi penurunan jumlah carbon sink di seluruh area wind thrown, dengan perkiraan jumlah sekitar 3 juta ton karbon sepanjang tahun pertama setelah badai tersebut terjadi. Total emisi gas CO2 di Swedia, diketahui sekitar 18 juta ton setiap tahunnya. Hal ini menunjukan penurunan potensi carbon sink dalam jumlah besar. Dengan menggunakan pemodelan data historis, diketahui prakiraan badai Lothar di Eropa tengah tahun 1999 mengurangi kesetimbangan karbon di Eropa sekitar 16 juta ton.
Kajian tersebut memberikan informasi bahwa badai dapat menyebabkan pengurangan yang signifikan pada sistem carbon sink, walaupun terdapat fungsi ketidakpastian seperti berapa lama pengaruh tersebut berlangsung. Keadaan tersebut dapat dikatakan semakin besar wind-throw yang terjadi, maka berkorelasi positif pengaruhnya terhadap efektifitas carbon sink dalam bumi. Artinya, semakin sering badai berlangsung, boleh jadi semakin kecil carbon sink berperan mereduksi CO2 yang dihasilkan. Oleh karena itu, hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih terutama bagi pembuat kebijakan dalam kaitannya dengan skenario perubahan iklim.
Sumber : http://www.environmental-expert.com/resultEachPressRelease.aspx?cid=8819&codi=46186