Hidrogen peroksida (H2O2) dalam larutan encer sudah tidak asing lagi dikenal sebagai salah satu penghuni lemari obat, tetapi ada sebuah molekul yang rumit, air oksida atau oxywater, yang mempunyai rumus molekul yang sama dengan hidrogen peroksida. Perbedaan air oksida dan hidrogen peroksida terletak hanya pada posisi dari sebuah protonnya:

Para ahli teori beberapa waktu belakangan ini yakin bahwa air oksida dapat diamati. Namun jangan berharap dulu seseorang akan datang dan memberikan sebotol air oksida kepada Anda. Diperkirakan air oksida lebih tidak stabil dibanding dengan hidrogen peroksida; perbedaan ketidakstabilannya sangat besar yaitu 47 kcal mol-1 (144 kJ mol-1) di dalam fase gas. Ini berarti tetapan kesetimbangan untuk perubahan hidrogen peroksida menjadi air oksida sangat kecil yaitu hanya 10-35. Selain itu, laju perubahan air oksida menjadi hidrogen peroksida diperkirakan sangat besar.
Karena ketidakstabilan air oksida, para ahli kimia harus mencari jalan dengan metode tidak langsung untuk mendeteksinya. Detlef Schroder dan rekan kerjanya di Technical University of Berlin, dengan menggunakan mass spectrometry, sudah mendapatkan bukti keberadaan air oksida yang sangat singkat.
Di samping perhatian secara umum pada molekulnya yang rumit, beberapa dorongan untuk menyelidiki air oksida muncul akibat kemungkinan peran air oksida sebagai perantara di dalam pergerakan oksigen baik secara biologis maupun abiologis dari hidrogen peroksida. Kebanyakan penelitian secara teori tentang air oksida, dan juga penelitian secara eksperimen oleh Schroeder di atas, meneliti air oksida dalam fase gas. Namun, air oksida di dalam bentuk larutan kemungkinan jauh lebih stabil relatif terhadap hidrogen peroksida. Kestabilan ini meningkatkan kemungkinan terlibatnya air oksida dalam proses kimia di dalam larutan.
(diterjemahkan oleh Shirley Deborah)