Dalam mempercepat terhadap peralatan portable pertama dalam mendeteksi tubuh manusia yang terkubur dalam bencana atau lokasi pembunuhan, saat ini para ilmuwan melaporkan hasil awal dari sebuah proyek untuk mengembangkan kimiawi sidik jari mengenai kematian. Berbicara pada Pertemuan Nasional American Chemical Society (ACS) ke – 28, mereka mengatakan bahwa sebuah profile dari kimiawi yang dilepaskan dari tubuh yang membusuk juga dapat mengarahkan pada suatu tambahan baru yang berharga terhadap kotak peralatan pihak forensik: Sebuah peralatan elektronik yang dapat menentukan waktu berlalunya semenjak kematian secara cepat, akurat dan tepat.
Sekarang ini, anjing – anjing yang dapat menemukan mayat merupakan standard dalam mendeteksi dan menemukan tubuh manusia pada saat gempa bumi, angin tornado, badai dan bencana alam lainya. “Anjing – anjing tersebut sangatlah efektif, namun ini memerlukan banyak waktu, biaya dan sumber daya manusia untuk melatih mereka. Jika ada suatu alat yang efektif untuk menekan biaya, maka hal itu pantas untuk dikejar,” kata Dan Sykes, Ph.D., bekerja sama pada penelitian lulusan mahasiswi yaitu Sarah A. Jones.
Untuk mengembangkan suatu alat tersebut, para ilmuwan harus mengidentifikasikan gas apa yang terlepas saat tubuh membusuk di bawah bermacam – macam kondisi lingkungan alam, jelas Jones. Sebagai tambahan, mereka harus mendetail urutan waktu dimana bau kimiawi tersebut dilepaskan beberapa jam dan hari setelah kematian.
“Apa yang sedang kita cari adalah suatu profil dari gas apa yang dilepaskan saat kita mati, sama seperti bagaimana lingkungan dan tingkah lakunya dimana kita mati mempengaruhi profil ini,” kata Jones.
Mayat yang membusuk melepaskan lebih dari 30 senyawa. Beberapa, seperti yang dinamakan “putrescine” dan “cadaverine,” mengembang di awal proses pembusukan. Studi yang lalu menggunakan tubuh manusia yang disumbangkan yang berumur dua atau tiga hari. Sebagai hasilnya, studi – studi tersebut tidak berhasil mendeteksi putrescine, cadaverine, dan senyawa lainnya yang muncul sangat awal pada saat proses pembusukan. Jones dan Sykes mengenyampingkan permasalahan dengan menggunakan babi yang disuntik mati di bawah kondisi yang manusiawi untuk memelajari pembusukan yang sesegera setelah kematian.
“Babi adalah model yang sangat bagus untuk penelitian ini,” kata Jones. “Mereka melewati sampai beberapa fase yang sama seperti manusia, sama baiknya dengan jumlah tingkatan yang sama. Dan tingkat – tingkat tersebut tinggal lebih lama pada babi – babi tersebut seperti mereka lakukan pada manusia sebelum munculnya pembusukan yang komplit dan hanya tulang – tulangnya saja yang tertinggal.”
Sykes dan Jones menempatkan babi – babi yang mati pada desain khusus unit pengumpul bau dibawah suatu varietas kondisi lingkungan. Setiap specimen di atas, mereka menambahkan sensor khususyang dikenal dengan fiber phase micro extraction (SPME) untuk menangkap gas – gas tersebut. Lapisan fiber special tersebut secara luas digunakan untuk mencoba komposisi kimiawi di udara. Jones dan Sykes mengumpulkan data bau tersebut setiap 12 jam selama tindakan seminggu.
Dengan memelajari data bau yang sangat berharga berminggu – minggu, suatu profil kimiawi yang jelas mulai muncul. “Pada hari pertama sampai tiga, kita menemukan tanda indole, yang merupakan benar – benar tanda yang bagus. Pada hari ketiga, kita menemukan indole dan putrescine, senyawa utama yang kita coba mendeteksi,” kata Jones. Mereka sekarang sedang mengkap gas – gas yang terlepas pada berbagai scenario lainnya untuk merekonstruksi cara berbeda dimana tubuh manusia dapat membusuk, menciptakan gambaran yang komplit tentang pembusukan
sangat tertarik sekali pda penelitian ini mudah2n dengan adanya alat ini dapat membantu kita memproses suatu kejahatan
Saya juga menaruh minat yang besar terhadap penemuan ini. semoga memberikan kontribusi di berbagai bidang.