Daftar Lupa kata kunci?
Tuesday, September 30, 2014 13:51

Beri Rating:

Sebarkan:

  • Lintas Berita Digg Facebook Lintas Berita

Kelangsungan Hidup yang Paling Lemah

Ditulis oleh Awan Ukaya pada 05-03-2012

Menaikkan Lembah komplek substrat A Pd-ligand yang mana kurang stabil secara energik dalam mengkataliskan allylic alkylation dari suatu substrat yang lebih efisien (ditandai dengan koordinat merah)—dimana, dengan energi aktifasi yang paling rendah (Ea)—ketimbang komplek yang lebih stabil (koordinat biru). L = ligand, R = kelompok fungsional, Nu = nucleophile.

Tim ini menerapkan pendekatan penemuan katalis mereka  guna menemukan lima ligand terbaik untuk mengakselerasikan  allylic alkylation dari suatu substrat acetate.

Teori evolution dapat saja berdasar pada istilah “yang kuat yang selamat,” namun pada saat memilih katalis yang terbaik, dictum tersebut tidak selamanya dapat dipegang.

Suatu tim peneliti telah menunjukkan bahwa seseorang dapat memilih katalis yang terbaik dari tempat penyimpanan kombinatorial dari beberapa kandidat disamping dengan menggunakan prinsip “survival of the weakest”—dimana intermediate katalis yang paling tidak stabil dapat menciptakan suatu katalis yang terbaik. Pendekatan ini dapat membuatnya menjadi kenyataan guna menemukan katalis yang lebih cepat dalam sintesis obat – obatan dan produk lainnya.

Sangatlah sulit untuk menemukan metode seleksi guna memisahkan sari pati suatu hasil panenan (katalis yang tercepat) dari limbah yang dibuang saat screening tempat penyimpanannya untuk mengidentifikasi katalis yang sangat aktif. Sekarang ini, ahli kimia teoritis yaitu F. Matthias Bickelhaupt dari Free University of Amsterdam, spesialis katalis yaitu Joost N. H. Reek dari University of Amsterdam, dan para rekan kerjanya telah mengembangkan suatu strategi seleksi inovasi untuk suatu eksperimen berdasarkan pada teori kelangsungan hidup intermediate yang paling lemah (Nat. Chem., DOI: 10.1038/nchem.614).

Para peneliti mencampurkan sejumlah palladium yang terbatas—mengikat pada substrat dari reaksi allylic alkylation—dengan berlimpahnya jumlah beberapa ligand organis. Pada keseimbangan campurannya, ligand berbeda mengikat pada Pd, dengan membentuk katalis yang beragam pada kemampuan mereka untuk mengakselerasi alkylation dari substratnya. Ligand yang membentuk komplekses substrat ligand Pd yang paling stabil mempunyai jumlah yang paling banyak pada larutan, dan mereka yang membentuk komplekses yang tidak stabilsangatlah jarang.

Dengan menggunakan electrospray mass spectrometry (ESI/MS) gna menentukan jumlah yang kurang berlebih dan  juga komplekses yang kurang stabil, para peneliti mengidentifikasikan beberapa ligand yang membentuk katalis yang paling aktif. Selanjutnya studi ini mengevaluasi katalis yang tidak berada pada car yang konvensional—dengan menentukan kemampuan mereka terhadap hambatan aktifasi yang paling rendah, energi yang dibutuhkan untuk membuat reaksinya berjalan—namun di samping menemukan intermediate yan kurang stabil, yang mana secara energik paling dekat dengan puncak hambatan dan selebihnya dapat dengan lebih mudah untuk melintangkannya.

Pekerjaan ini “menyoroti nilai dari pendekatan kombinatorial yang cerdik dalam pengembangan katalis yang sangat efektif,” kata spesialis katalis yaitu Helma Wennemers dari University of Basel, di Switzerland.

“Ini merupakan demonstrasi cerdas dari screening katalis yang sukses dengan menggunakan metodologi sederhana ESI/MS,” kata ahli kimia  polymer yaitu Krzysztof Matyjaszewski dari Carnegie Mellon University.

Beberapa kelompok seperti kelompok Matyjaszewski dan spesialis screening katalis seperti Andreas Pfaltz dari University of Basel telah mengidentifikasikan katalis yang bagus dari beberapa campuran sebelumnya. Akan tetapi studi baru menunjukkan salah satu dari beberapa contoh screening terdahulu dimana “keseimbangan system katalis berada pada taraf seimbang dan dikomunikasikan,” kata Reek. “Ini merupakan proses seleksi berdasar Darwinian dimana yang bertahan hidup adalah yang paling lemah, sedangkan yang lainnya kebanyakan telah diawasi beberapa propert campuran katalisnya yang mana tidak dikomunikasikan sebelumnya.”

Ahli kimia kombinatorial dinamis yaitu Sijbren Otto dari University of Groningen, di Belanda, mengungkapkan, “Kita memahami keadaan awal lebih baik ketimbang keadaan transisinya,” dimana spesies transient pada bagian puncak hambatan aktifasinya. Dengan memanipulasi beberapa energi dari reaktan intermediate “mungkin saja, untuk beberapa system yang terpilih, menjadi suatu cara yang lebih mudah dalam menentukan katalis dari pada berusaha untuk berinteraksi secara selektif dengan keadaan transisi yang lebih elusif,” kata Otto.

Dengan menggunakan teknik baru ini guna mendeteksi sejumlah spesies yang kurang berlebih di dalam tempat penyimpanana yang besar dan melakukan screening secara substansial pada beberapa kelas ligand berbeda pada campuran yang sama, bagaimanapun, sangatlah sulit, tambah Otto. Namun begitu, dia mengatakan, “pendekatan ini berpegang pada janji yang masuk akal bagi pengembangan dan penemuan katalis.”

Artikel ini termasuk kategori: Berita dan memiliki 0 Komentar sejauh ini .
Resep Makanan

Anda dapat mengirimkan komentar , atau taut balik dari situs pribadi .

Beri Komentar

Anda Member Chem-is-try.org? Silahkan login disini
Belum menjadi member? Beri komentar disini:

(wajib)

(wajib) (tidak dipublikasi)





Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>