Daftar Lupa kata kunci?
Thursday, March 18, 2010 17:30

Beri Rating:

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (67 votes, average: 4.34 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sebarkan:

Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini?

Ditulis oleh Safri Ishmayana pada 11-07-2005

AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.


Gambar 1A Struktur Virus HIV


Gambar 1B Daur hidup HIV

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.


Gambar 2 (klik untuk memperbesar)

Gambar 2 menunjukkan skema produk translasional dari gen gag-pol dan daerah di mana produk dari gen tersebut dipecah oleh protease. p17 berfungsi sebagai protein kapsid, p24 protein matriks, dan p7 nukleokapsid. p2, p1 dan p6 merupakan protein kecil yang belum diketahui fungsinya. Tanda panah menunjukkan proses pemotongan yang dikatalisis oleh protease HIV (Flexner, 1998).

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.


Gambar 3 (klik untuk memperbesar)

Gambar 3 menujukkan lima struktur inhibitor protease HIV dengan aktivitas antiretroviral pada uji klinis. NHtBu = amido tersier butil dan Ph = fenil (Flexner, 1998).

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam. Penelusuran senyawa yang berkhasiat tentunya memerlukan penelitian yang tidak sederhana. Dapatkah obat tersebut ditemukan di Indonesia? Wallahu a’lam.

Pustaka:

  1. Flexner, C. 1998. HIV-Protease Inhibitor. N. Engl. J.Med. 338:1281-1293
  2. Patrick, A.K. & Potts, K.E. 1998. Protease Inhibitors as Antiviral Agents. Clin. Microbiol. Rev. 11: 614-627.
Artikel ini termasuk kategori: Berita dan memiliki 329 Komentar sejauh ini.

Anda dapat mengirimkan komentar, atau taut balik dari situs pribadi.

329 Komentar untuk “Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini?”

  • delima says:

    saya mengidap HIV dan sudah 5 bulan saya tidak pernah menstruasi, apakah itu pengaruh dari HIV? bagaimana cara mengatasinya? kepala saya juga sering pusing … tolong bantu saya

  • monang says:

    Dear Delima,
    Sudah jelas memang itu pengaruh dari HIV, sebaiknya anda mengkonsumsi makanan yang menghasilkan sel-sel darah yang baru. Contohnya, bubur kacang hijau + gula merah (jangan pakai santan dan gula). Kepala anda pusing juga disebabkan kurangnya darah. Sebaiknya anda cek ke laboratorium Hb anda. Jika memang kurang, sebaiknya anda tambah darah (transfusi darah) atau anda bisa mengkonsumsi makanan seperti diatas. Atau bisa juga anda mengkonsumsi sangobion.
    Kondisi anda sekarang jangan dibiarkan berlarut-larut, karena bisa berakibat fatal.

  • sary says:

    Apakah orang yang pernah berhubungan intim dg pekerja seksual tanpa menggunakan kondom pasti akan mengidap Hiv aids?
    Bagaimana cara memeriksa darah d lab? apakah datang ke lab lgsung meminta untuk mengecek darah utk Hiv aids, atau hal apa yang harus dilakukan?

  • monang says:

    Dear Sary,
    Jika kedua orang tersebut bukan penderita HIV/AIDS dan tidak menggunakan kondom, sudah jelas tidak akan tertular. Namun jika salah satu pengidap HIV/AIDS, walaupun menggunakan kondom resiko tertularnya sangat besar. Ini yang sangat perlu diperhatikan. Karena bukan jaminan kondom bisa mencegah penularan HIV/AIDS.
    Sebagaimana kita ketahui, penularan HIV/AIDS yang paling rentan adalah melalui darah.
    Contohnya, seorang pengidap HIV/AIDS yang sedang sariawan berhubungan sex dengan pasangannya yang kebetulan gusinya sedang berdarah.
    Untuk Tes HIV/AIDS perlu surat pengantar dokter, namun hal ini banyak orang yang keberatan dengan peraturan yang ada tersebut.
    Untuk informasi yang lebih jelas lagi anda bisa hubungi monangsi@yahoo.com atau anda bisa kunjungi kami di http://www.lsmtwos.net

  • Ryan priadi says:

    Apakah orang yang pernah berhubungan dengan pekerja seks tanpa menggunakan kondom terjangkit penyakit hiv aids?

    • monang says:

      Dear Ryan,
      Seperti yang saya terangkan sebelumnya, jika kedua orang tersebut tidak mengidap HIV, maka penularan tidak akan terjadi walaupun tidak menggunakan kondom.
      Dan perlu saya tekankan disini bahwa kondom bukan jaminan bagi seseorang agar tidak tertular HIV/AIDS.

  • ahmed says:

    bagaimana sekiranya bakteriofage disisipi dg gen HIV;kemudian dilemahkan & disuntikkan ke dlm tubuh penderita utk melawan HIV.Mungkin ide ini agak gila & sangat beresiko,tapi….

    • monang says:

      Dear Ahmed,
      Boleh juga saran anda …. tapi sangat menyeramkan … atau ada yang mau jadi kelinci percobaan teori mr ahmed ..????

  • monang says:

    Dear Ahmed,
    Sudah ada herbal pembunuh HIV/AIDS, jadi tidak perlu melakukan hal yang terlalu ekstrim dan membahayakan.
    Dibunuh habis semua virus baik yang di darah maupun yang sembunyi di kelenjar.
    Apalagi untuk menaikkan CD4 hanya memerlukan waktu paling lama 2 minggu ( CD4 Abs = 0 cell/ul menjadi 410 cell/ul ).

  • Rachmawaty says:

    Jika si almarhum suami positif menderita HIV-AIDS (meninggal tahun 2007), apakah si istri positif menderita penyakit yang sama pula????namun si istri rutin selema 2 tahun (tahun 2007 dan 2008) terakhir melakukan tes darah dan hasil negatif. Apakah kemungkinan untuk terkenan penyakit itu ada???terima kasih atas informasi dan jawabannya.

  • Ahmed Neutron says:

    dear Mr.meyesal,sekiranya anda tdk berkenan mjd mns percobaan kami,ada cara yg lebih ampuh & jauh lbh murah drpd obat2an HIV yg ada dipasaran utk meningkatkan imunitas anda,yt dgn minum MINYAK KELAPA.nampaknya sepele,tp jgn anda remehkan…jika anda berkenan ?!! Cobalah !!! secara ilmiah maupun praktek telah terbukti….

  • monang says:

    Herbal Sari Dinda

  • monang says:

    Dear Rahmawaty,
    Kalau memang si istri sudah tes dan hasilnya hiv nonreaktif, ya tidak perlu ragu lagi dengan hasil tersebut.
    Sebagai informasi, tes HIV sebaiknya dilakukan dengan menggunakan metode Elisa dalam jangka waktu 3 bulan pertama, 3 bulan kedua dan yang terakhir adalah 6 bulan.

  • tita says:

    mw tanya apa bedanya HIV+ dan HIV-? apakah HIV- berarti sudah sembuh total dari HIV-? dan tidak beresiko menularkan penyakit HIV jika berhubungan dengan pasangan? terima kasih.. mohon dijawab..

    • monang says:

      Dear Tita, kalau HIV+(reaktif) artinya orang tersebut terjangkit virus HIV. Sedangkan HIV-(nonreaktif) artinya orang tersebut tidak terjangkit/mengidap HIV. Jadi jika orang tersebut HIV-(nonreaktif) berarti orang tersebut tidak bisa menularkan HIV kepada pasangannya. Karena tidak ada virus tersebut dalam tubuhnya. Tapi perlu diingat, tes HIV nya harus dengan benar. Seperti yang pernah saya terangkan sebelumnya.

  • madly says:

    mbagh itu kira kira ada obatnhya gak yaw???

  • ahmed neutron says:

    dear Madly
    Ada……….!!!!!!

  • rossa says:

    mantan istri sdra aku positif hiv…skrg lg dirawat…mulutnya sdh ada putih2 spt jamur gitu…mrka sdh pisah sktar 3thn yg lalu…apakah sdraku jg bs kena hiv…bagaimana jg dgn ank mereka yg skrg sdh umur 5thn..apakah jg positif hiv..?

  • dwi says:

    sebenarnya bukan komentar tapi mau tanya untuk herbal sari dinda emang itu betul ya…. n kalau betul kita bisa dapat di mana ya………. malasih

  • Mheriie says:

    KLo org yG trKena AIDS
    kira” dLm jgka wkt brP Lama
    org iTu bisa brTahan hiduP..?

  • monang says:

    Bagi mereka penderita HIV/AIDS yang sudah kritis sebaiknya anda melakukan transfusi darah, hal ini sangat berguna untuk mempertahankan kondisi tubuh anda.

  • anak kecil says:

    klo ciuman lips vs lips (extrim kiss ;-) ) bisa trjangkit HIV gak??

Beri Komentar

Anda Member Chem-is-try.org? Silahkan login disini
Belum menjadi member? Beri komentar disini:

(wajib)

(wajib) (tidak dipublikasi)





Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>